Pages

Monday, February 15, 2010

Teman Super Tega

Siang tadi, setelah urusanku selesai di kota Cilacap, aku pulang ke Purwokerto lagi, kota dimana aku tinggal dari semenjak aku lahir hingga umurku yang sekarang ini, mungkin hingga tarikan nafasku yang terakhir aku akan tetap tinggal di kota kecil ini saking cintanya aku kali ya sama Purwokerto (didramatisir critane).

Kembali ke cerita pulangnya aku dari Cilacap, kira-kira jam 12.45 menit aku udah sampai di Rawalo, aku mampir ke masjid di pinggir jalan buat sholat dzuhur, untuk ukuran sebuah masjid, masjid ini ga terlalu besar bangunannya, Setelah selesai ambil air wudhu aku pun masuk, saat di dalam aku ngliat ada cowo umuran duapuluh sedang baca buku IQRO, mungkin karena dia belum bisa baca quran dengan lancar kali ya? dilihat sepintas dari panjang rangkaian hurufnya kemungkinan besar itu buku IQRO tingkat 2 atau 3.

Setelah selesai sholat aku pun bergegas siap untuk melanjutkan perjalanan pulangku, ternyata anak laki-laki yang tadi aku lihat sedang baca IQRO, sekarang sedang duduk di pintu masjid sambil memakai sepatu, sepertinya dia pun akan melanjutkan perjalanannya. Aku pun tertarik untuk menanyakan tujuan dia mau kemana, tapi setelah aku tanya dia palah balik nanya
"Lha masnya mau ke arah mana mas?",
"Ke arah Purwokerto, habis dari Cilacap soalnya" jawabku sambil ngliatin mukanya yang agak kelihatan pucat,
"Kalau aku mau ke Sidareja mas" kata dia,
lalu aku ngehidupin mesin motorku berniat langsung pergi, tapi dalam hati ada yang kurang beres sama dia nih, akhirnya sambil duduk di atas motor aku nanya lagi ma dia
"Mang ke Sidareja naik bus nyampai berapa dari sini?",
"Ya paling 15ribu mas",
"Lha kamu naik bis apa dari sini?" tanyaku lagi,
"Aku jalan kaki mas",
aku semakin heran dan yakin ada yang ga beres sama dia
"Lho kok jalan kaki, emang kenapa? Emang ga ada ongkos?",
"Ga ada ongkosnya mas, diambil sama temen"
"Lho temenmu sekarang mana?"
"Kata dia, dia anak Kroya mas. Kemarin kita berangkat bareng dari Jakarta mau pulang, dia nyuruh aku mampir ke rumah dia di Kroya, tapi karena kemaleman, kita akhirnya tidur di masjid dulu, tapi setelah aku bangun temenku udah ga ada, dompet sama isi tasku juga diambil"
"Lho kamu akrab ga sama temenmu itu?"
"Ya akrab, orang kita kerja bareng di Jakarta, kita kenalnya disana mas, kita sama-sama kerja jadi kuli bangunan disana, tapi aku ga tahu rumahnya"
"Trus kamu nyampe sini naik apa?"
"Jalan kaki mas dari habis subuh"
Saat itu aku ga tahu yang aku rasain, marah sama temennya, heran, kasihan ma anak ini. Tapi yang paling aku heranin tuh, kok ada yah temen yang setega itu ma temennya sendiri. Aku rasa tuh temennya dia tuh orang KATRO, NDESO, GUOBLOKNYA MINTA AMPUN atau apa lah, mungkin otaknya udah ga bisa buat mikir, rasa manusiawinya udah hilang ditelan keserakahan.
Aku bukan orang yang kebanyakan uang, tapi masa sih aku tega mbiarin dia dalam keadaan kaya gitu.
"Udah makan belum?" tanyaku lagi
"Belum mas, tadi sih dikasih minum sama mba yang jaga konter di depan"
"Nih aku kasih uang buat ongkos pulang sama makan, maaf cuma segitu tapi terima aja!"
Matanya berkaca-kaca ga tahu karena apa, dia ngucapin terimakasih berulang-ulang sambil nunduk-nunduk ke arahku.

Setelah kita ngobrol sebentar, akhirnya aku tahu dia kerja di Jakarta ikut temen sekampungya, karena di rumah lagi butuh duit akhirnya dia pulang duluan dan kebetulan bareng sama yang ngakunya temennya dari Kroya yang tapi kelakuannya kaya setan itu. Buat semua temen-temenku, bukannya lagi ngajarin, kita hidup emang butuh uang, tapi ya apa harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya termasuk mengorbankan teman sendiri? jjt.

0 comments: